Hananonanohoi's Blog

December 16, 2010

Pagi Kelabu

Filed under: kisah-kisah menarik — hananonanohoi @ 2:00 am

Dua tahun sudah berlalu. Kasni sudah ingin lupakan semua. Tapi semakin kucoba, terasa semakin sulit saja. Kasni bukan munafik, Kasni hanya ingin hidup tenang saja. Namun mengapa terasa begitu sulit, berat, dan mendalam dihidupnya?
Kejadiannya dua tahun yang lalu. Tepatnya di hari Senin, 13 Mei ****(tahunnya rahasia). Kasni .. hanyalah siswa bodoh, menyebalkan, membingungkan, dan tidak mengerti apa yang Kasni lakukan. Tetapi, benarkah itu?? Kasni tak pernah merasa se-PeDe waktu itu. Rasanya memang menyenangkan, sekaligus menyialkan.

***

Pagi itu Kasni berangkat seperti biasa. Jam 06.30 Kasni menaiki sepeda onthelnya yang sudah turun-temurun sejak nenek kakeknya di jaman penjajahan(dor-dor-merdeka!!). Kasni memang tidak bisa tanpa sepeda onthel itu. Mungkin memang sudah nasibnya. Selalu saja jadi anak sial. Bahkan Kasni dijuluki “Si Sial Dari Neraka Lapis 13”.
Begitu sialnya, sepeda onthelnya tersayang tiba-tiba saja berhenti di perempatan Lorong Parsial, Gang Anaconda, Jalan Burung Dara km 13, kota XYZ. Tepat di depan toko plastik 1300, arloji butut bermerek TUV milik Kasni telah menunjukkan tepat jam 6.48, dalam hati Kasni menangis, “Kenapa?? Kenapa sepedaku harus berhenti?? Bukankah tak pernah begini sebelumnya?? Aku .. Kenapa aku harus sial begini??” Ia begitu sedih meratapi nasibnya yang selalu saja tidak sesuai rencana.
“Aku tak mengerti ..” belum selesai ia mengeluh tiba-tiba saja seorang pria tinggi, kurus, tangannya berbulu, begitupun kakinya. Dengan warna kulit kuning langsat ia terlihat begitu menarik, namun harus dipikir bejuta-juta kali lagi. Wajahnya bak monyet, penuh bulu di sana-sini. Yang jenggot, kumis, godheg, alis, rambut, semua begitu tebal dan hitam kelam bagaikan langit yang hendak murka.
Kasni begitu ketakutan. Semua bulu, mulai bulu mata sampai bulu kuduk telah berdiri tegap, bak pejuang yang hendak ke medan perang. Tak sadar keringat mengucur dari puncak kepala sampai ke lembah kaki berbau stoberi 1000 tahun miliknya.
“Dik, ada apa? Kok berhenti di sini?” tanya pria itu.
“Es .. si .. si .. siapa? Eh, maksud saya Anda siapa? Kenapa bertanya begitu pada saya? Apa yang terjadi?” Kasni harus bersusah payah menyusun kata-kata itu dibawah tekanan rasa takutnya yang membara.
“Oh .. saya Budi, Raden Mas Aryo Penangsang Kangmas Budi Prasetyo Prawirodirdjo Atmo Dipura. Saya tu bukan orang jahat lho, dik! Saya hanya minta adik untuk menepi saja! Adik harus segera menepi!” pria itu berkata dengan lantang, jelas, dan membuat Kasni hampir ngompol. Matanya sudah melotot seperti mau keluar dari tulang tengkorak miliknya yang sangat berharga.
“Ke .. ke .. huuh(menarik napas panjang).. kenapa, Tuan?” Kasni begitu bingung harus memanggil apa. Ia berpikir itulah yang terpantas setelah ia tahu nama pria mengerikan itu. Begitu panjang, jelas sekali bukan warga negara biasa. Ia pasti punya posisi kuat di pemerintahan. Sehingga Kasni begitu takut setengah mati(walaupun ia belum pernah mati).
“Aduh, ndhuk .. Kamu tu gimana to? Tau nggak sich kalo kamu sekarang ada di tengah jalan. Kamu itu dengan pedenya berhenti dan lingak-linguk, liat sana liat sini. Pegang ini pegang itu. Memangnya sepedamu kenapa to? Pake panggil tuan segala.” pria itu semakin membuat Kasni gemetar.
“Se .. se .. saya .. mm ..” belum kelar ngomongnya lagi-lagi dipotong oleh pria itu.
“Mingir atau tak tabrak?! Ayo cepet kamu pergi dari tengah jalan!” pria itu sepertinya sudah tidak sabar lagi menghadapi Kasni yang plegak-pleguk.
“Iya .. iya. Saya minggir.” Kasni segera bergerak secepat tentara di medan perang. Sangat sigap.
“Hu ..!! dasar anak kecil! Berhenti kok di tengah jalan? Marai macet wae!” ejek seorang ibu yang sedang hamil dengan perut besarnya dengan sangat PeDe dengan suara lantang dengan membonceng suaminya.
“Marai emosi wae to ndhuk, ndhuk. Kamu itu pingin mati, ya?” tanya orang lain yang sudah tua dengan suaranya yang mak jleb. Membuat Kasni semakin tidak semangat sekolah saja.
Sekarang arloji tua Kasni sudah menunjuk jam 7.25. Ia semakin merasa sial. Sepedanya tak kunjung dapat diperbaiki. Rantai copot, sulit dipasang lagi. Pagi ini tidak seperti biasanya. Rantai copot pagi-pagi. Kalau seperti biasa pasti ia tidak begitu sial, tidak dikejar deadline sekolah jam 7.00.
“Aku pasti telat. Aduh gimana ini? Padahal kan pelajaran pertama Pak Paijo, guru fisikaku yang galak. Aku pasti dihukum habis-habisan. Waduh, gimana ini?” wajahnya semakin memerah dipadu hitam, bingung, takut, dan segala macam rasa dari coklat sampai vanila. Apalagi suara hati telah berpikiran buruk.
Semaikn lama ia tidak tahan lagi. Menoleh ke kanan lalu ke kiri. Wah, sangat sepi. Meski di pinggir jalan namun terasa di tengah hutan terpencil. Tapi tiba-tiba ..
“Neng ..”kini giliran ia memotong, tidak dipotong lagi.
“Ya, wah, pas banget, Pak. Mbok saya titip sepeda! Saya tu mau sekolah, tapi kok sepeda saya malah rusak, susah diperbaiki. Boleh, ya?”Kasni mulai berakting, mengeluarkan jurus wajah melas, suara miris, hati teriris, keringat mengalir deras, akhirnya, permohonan diterima.
“Ya, boleh. Tapi .. Lhoh, Neng! Sebentar, Neng! Neng ..! Kok pergi? Aduh, kumaha ie teh. Simboknya teh mana? Katanya simboknya mau titip sepeda, si eneng teh malah plencing wae’ atuh. Sepedanya ditinggal. Maen-maen wae mah si enengnya teh.” keluh si tukang parkir asal Sunda yang kebingungan karena Kasni langsung lari sekencang kuda pacu meninggalkan tukang parkir tak dikenal itu.
Rupanya si tukang parkir itu telah salah mengerti. Mbok bukan ibu, tapi, apa daya. Kasni telah pergi, meninggalkan sepedanya yang mungkin akan sial juga.

***

Beberapa menit kemudian ia telah ada di Ruang BP. Menanti nasib dari Guru BP. Ia terlambat masuk saat pelajaran Pak Paijo, akibatnya sangat fatal. Bahkan, lebih fatal daripada patah tulang.
Sungguh sial. Sebenarnya ia hanya terlambat 33 menit saja, tapi hukuman yang harus ia jalani lebih dari 3 kali lipatnya.
“Iyak, Kasni, kenapa kamu terlambat selama itu? Kamu tau kamu bisa saja diskors!!” mulailah ceramah Bu Painem.
“Saya .. Tadi tu begini critanya, Bu’..” saat asyik bicara kesempatan itu hilang dipotong Bu Painem.
“Sudah tidak usah cerita! Saya tanya kenapa Kasni!”Ibu Painem memastikan.
“Iya, Bu’. Sepeda saya rusak di tengah jalan. Jadi saya harus ..”sungguh bencana, ia lagi-lagi belum selesai bicara dipotong.
“Ya sudah. Sebagai hukuman, kamu harus, 1) Mengosek WC satu sekolah, 2) menghormat bendera seharian, karena tidak ikut upacara, 3) mencuci motor saya, tolong yang bersih ya! Lama belon dicuci. Cepet sana!!” menggertak, membuat Kasni merinding dan njranthal seketika.
Seharian ia dihukum. Selesai hormat bendera 5 jam, ia lalu mengosek wc sekolah, setelah itu ia masih harus mencuci motor bmw-bebek merah warnanya- seri pitung milik bu Painem.
“Sial, sial, aku memang sial hari ini. Besok, liat saja kamu yang akan sial Painem. Motor macet, dimaki orang, keceblung kalen, baju basah kuyup dan bau peceren yang suedap abiz, dijilati dengan mesra dan penuh rasa cinta sama yang namanya anjing rabies+gila+epilepsi+batuk+pilek+panuan=sial abis, dan lain-lain dan sebagainya dan seterusnya-rasa ini slalu terjadi dan tak pernah berubah, laguna Nirina.
“Bilang apa kamu, Kasni? Mau ditambah hukumannya? Iya? Ha?” Bu Painem mendengar gumaman Kasni.
“Tidak, Bu’. Ampuni saya, Bu’. Tobat saya, Bu’. Selanjutnya saya tidak akan telat lagi. Bener, sumpah, jujur, yakin, saya janji.” Sambil memasang jari tanda ‘swear’.

***

Begitulah, nasib sial memang selalu saja menghantui umat manusia -terutama Kasni si tokoh imajinasiku yang konyol. Begitu kejam terkadang, namun kenangan telah membuatnya begitu indah. Meski tetap saja menyialkan. Malu dikenang, sulit dilupa. Meski begitu tetaplah sial namanya. Yang perlu diingat sial itu selamanya hanyalah sebuah anggapan manusia. Sesungguhnya tak ada makhluknya yang diciptakan dengan kesialan, untuk itu manusia tak boleh protes jika saja seandainya ia menjadi tak seperti idamannya ketika menjalani kehidupan di dunia yang sungguh sangat fana ini.🙂

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: